Saturday, March 21, 2015

10:59 PM

Saya tahu saat ini seharusnya saya tidak di sini.
Menulis,
berkelana pikiran saya.
Jauh,
entah ke mana.

Saya masih saya yang lama,
yang tidak dapat memisahkan apa yang perlu dipikirkan, apa yang nanti dapat dipikirkan bahkan tidak perlu sama sekali dipikirkan.


Dan kamu,
salah satu di antaranya.


Salah satu di antara banyak hal yang hinggap di dalam otak saya.
Atau hati?
Juga salah satu di antara banyak hal yang ingin saya tepis keberadaannya.

Sayang,
saya belum dapat melakukannya.

Bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Sesungguhnya saya tidak apa jika memang ternyata beberapa puluh bulan belakangan ini menjadi sia-sia.

Saya (mungkin) sudah tahu dari awal kalau ini tidak akan bisa berjalan sesuai dengan kemauan saya.
Memang saya ini siapa?
Berani-beraninya menuntut kamu ini itu sesuka dengkul saya.
Padahal belum jadi siapa-siapa.
Kalaupun sudah jadi siapa-siapa pun saya masih mikir berapa kali untuk nuntut kamu begini begitu.
Karena pada dasarnya saya mengerti dan menghargai seburuk dan sebaik yang ada dalam dirimu.

Tapi, bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Jujur,
mungkin saya akan sedih dibuatmu.
Karena kamu berbeda, karena kamu tidak sama dengan yang sebelumnya pernah saya rasa.
Ya walaupun saya belum pernah berada dalam hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan, persahabatan, apapun namanya.
Setidaknya saya pernah menyukai dan (mungkin, jika saya tidak salah) disukai.

Saya pernah lihat ini di linimasa media sosial yang saya punya,

"You can admire on thousand people. Then for loving in, you will only have one person"

Kamu adalah contoh riil dari kalimat tersebut.
Kamu berhasil membuat saya membedakan hal tersebut.
Kamu berbeda,
dari lawan jenis yang kadang membuat mata ini tak sanggup jika tidak melirik sedikit, tak sanggup jika tidak bergumam atau minimal berkata dalam hati.
Kamu bukan mas-mas gondrong berwajah gahar yang sering saya temukan di beberapa sudut di kampus perjuangan.
Kamu juga bukan mas-mas yang saya benci karena gayanya lebih cantik dari seorang perempuan.

Kamu ya kamu.
Kamu memang bukan mas-mas gondrong yang selalu bisa membuat mata ini diam-diam melirik kearahnya, tapi kamu berhasil membuat saya melirik tanpa melihatmu.
Bingung?
Saya pun demikian.

Lihat, saya mulai lagi kan?
Bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Saya ingin tahu apa yang terlintas di pikiranmu,
apapun, tentang saya.
Apakah saya pernah membuatmu merasa bahagia atau sedih?
Apakah saya menyebalkan karena tidak pernah jelas mengutarakan apa yang saya rasakan?
Apakah saya membuatmu merasa ilfil?
Apapun itu.


Jadi, bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?
Atau,
bisakah kita tetap menjadi teman setelah ini?
Atau mungkin,
kita bisa mulai dari awal lagi?


Namun sebelumnya,
ketahuilah,
"....as long as you are trying, I am staying."

(p.s: Iya, saya juga mendapat kalimat ini dari linimasa sosial media yang saya punya)

Tuesday, February 17, 2015

Judulnya Curhat

Tadinya saya tidak berniat menulis postingan kali ini.
Yah setidaknya, bukan hari ini.
Entah minggu depan,
atau akhir bulan.

Tapi rasa-rasanya, saya tidak bisa terus menerus disiksa secara manis seperti ini.
Eh,
mengapa begitu ya istilahnya?
Disiksa secara manis.
Ah, sudahlah.
Tapi memang benar begitu adanya.
Nah, daripada saya tersiksa sendiri
Lebih baik dibagi-bagi, ya kan?


Tidak juga sih.


Jadi, beberapa hari yang lalu...
Saya bertemu dengan teman saya.
Secara langsung.

Yes, after all this time. Lol.

Rasanya?
Serius mau tau rasanya?
Biasa aja.
Itu sih saya aja yang berusaha keras supaya terlihat biasa saja.
Selebihnya, semuanya ada.

Dari awal mula tercetus kata-kata,
yang entah dari mana datangnya.
Seingat saya waktu itu cuaca sedang baik-baik saja.
Tapi entah mengapa rasanya berbeda.
Ah, entahlah.
Hanya perasaan saya saja.

*kemudian berusaha keras bersikap biasa saja*

Ternyata tempat ketemunya di kedai kopi.
Tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran, tapi yah sesuai lah sama harapan.
Tadinya saya kira akan ketemu di tempat yang super ramai, banyak orang lalu-lalang, banyak pula yang sibuk di meja makan masing-masing, lalu ada adegan salah orang.

Shit.

Alhamdulillah tidak separah itu.

Baru sekali saya ke kedai kopi,
baru sekali saya mencari orang yang tidak saya kenali,

baru sekali saya jalan berdua dengan laki-laki.

Iya, saya sepolos itu.
Selamat karena telah berhasil membuat saya bilang "iya" ketika diajak pergi entah kemana.
Yang sebelum-sebelumnya...
yah kira-kira tahu lah jawabannya apa.

Minus beberapa jam, rasanya campur aduk.
Sebelumnya masih bisa bersikap biasa.
Lama kelamaan...makan tuh "biasa".
Jujur, saya deg-degan.
Deg-degan sampai ketiduran.
Tidak ada hubungannya sih sebetulnya.
Awalnya saya memang menunggu adzan lantas shalat lalu jalan.
Namun kemudian saya berpikir kalau itu bisa mengurangi rasa deg-degan.
Ya sudah,
kebablasan.

Rasa deg-degan muncul lagi.
Turun angkutan umum lalu jalan kaki,
lemas kaki hingga ujung jari.

Kamu tahu?
Sebetulnya saya sudah masuk ruangan itu.
Sampai mbak-mbak sebelah mejamu melihatku,
lalu saya berbalik keluar pintu.
Hanya untuk menanyakan pertanyaan yang jawabannya saya sudah tahu.

Yah, saya memang cupu.
Kamu seharusnya sudah tahu.
Saya sudah tahu itu kamu.
Tapi masih malu.
Yah, saya memang cupu.

Ya sudah, kamu ada di hadapanku.
Sesaat kemudian pindah bangku.
Duduk di pojok dekat kaca,
sengaja.
Agar saya bisa menghela napas sekuat tenaga kemudian menghembuskannya tanpa kamu rasa.

Kali ini saya bisa melihat kamu dari dekat.

Sayang, saya terlalu cupu sampai selalu melihat keluar.
Padahal kacanya pun tidak transparan.
Hanya beberapa bagian saja yang terlihat awan atau jalanan.
Bodoh.

Mbok ya kalo salting ditutupi toh nduk.

Lagi, saya bisa melihat kamu dari dekat.
Lagi lagi, saya tidak dapat menatap mata lawan bicara lama lama.
Tidak, kamu tidak perlu merasa spesial.
Teman yang sering mengobrol denganku juga tahu saya tidak bisa menatap mata lawan bicara terlalu lama.

Tapi, saya sudah mencoba.
Yah walaupun lagi lagi lihat jendela.
Maaf ya...

Ada hal lain yang saya perhatikan ketika saya tidak kuasa menatap matamu.
Yah selain jendela, orang orang lain yang ada di sana, bahkan sesekali menengok ke meja kasir.


Senyummu.


Heh, jangan pikir macam macam.
Saya juga tidak berpikiran macam macam.
Aneh, ya?
Sepertinya setelah saya menulis ini kita akan kembali seperti saat tidak saling mengenali satu sama lain.

Heh, bibirmu itu lho.
Ah mungkin saya saja yang terlalu berlebihan.

Shit.
I don't know, i just could not resist....

Sudah sudah.
Nanti ada yang terbang menuju langit bersama paus akrobatis menuju blablabla yang paling manis.

Lewat 2 jam, kemudian pulang.
Maaf tidak sebanding dengan waktu kamu menunggu saya.
Iya, saya telat 1 jam, sepertinya.
Atau lebih? Yah maaf karena salah sangka, kamu jadi menunggu lama
Semoga tidak menyesal telah bertemu dengan saya.
Atau justru sudah menyesal?
Semoga tidak, ya

Maaf jika saya tidak memberikan kesan yang baik.
Maaf jika terlalu pasif.
Maaf....

yah pokoknya maaf. Maaf, ya.




p.s: kamu tidak setua yang saya bayangkan. Mungkin karena efek tubuhmu yang "cilik". Iya, serius saya hanya bercanda. Terserah kamu mau menganggap ini pujian atau hinaan. Tapi seharusnya sih ini pujian, ya kan?

Saturday, January 31, 2015

Gara-gara Ask.fm

Pada suatu malam,

tiba-tiba muncul notifikasi dari ask.fm.
Saya mendapat sebuah pertanyaan dari seseorang yang anonim, isinya seperti ini

"Dear future husband..."

Shit.

Saya belum menjawab pertanyaan itu hingga detik saya mengetik kalimat ini.

Putar otak,
cari kalimat yang pas,
gagal.
Putar otak lagi.
Berusaha membayangkan di situasi yang sebenarnya ketika saya sudah memiliki suami.
Masih juga gagal.

Shit.

Sebelumnya saya sudah cukup sering melihat pertanyaan seperti itu di ask.fm. Biasanya saya hanya membaca "dear future husband" milik orang-orang, lantas sehabis itu saya senyum-senyum sendiri. Dan oh, tidak lupa pencet tombol like. Tapi sekarang, giliran saya yang harus menjawab pertanyaan itu.

Shit.

Kepada yang terhormat mb atau mz anonim, saya berusaha menjawab pertanyaannya sebisa saya, ya. Alasan mengapa saya menjawab di blog, karena kalau di ask.fm sepertinya terlalu panjang dan saya takut kamu malas membacanya.

Yah, alibi hanyalah alibi...



Dear my future husband,



Terimakasih telah menerima saya apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang terlihat maupun tidak dari diri saya. Selamat menjadi tong keluh kesah saya. Mengingat saya sering overthinking tentang apa saja, maka kamulah yang nantinya akan menjadi tempat saya bicara masalah apa saja, dari masalah sepele hingga masalah yang bisa membuatmu berkata "Kamu ini ada-ada saja". Semoga hidup denganku tidak membuatmu merasa direpotkan, bahkan membuatmu merasa tanda-tanda akhir zaman semakin dekat ketika kamu menikahiku kelak.


Aku akan sangat senang jika kamu mengerti bahwa aku tidak suka memegang bawang--apapun jenisnya--, juga memegang talenan, jadi kamu tahu apa alasannya ketika aku malas memasak untukmu. Hehe.


Aku tidak melarang hobimu, terserah kamu ingin melakukan apa saja asal itu baik, tidak merugikan dirimu dan orang lain. Aku bisa menemanimu nonton bola, mengajak bicara hanya untuk membuatmu tetap terjaga ketika pekerjaanmu hampir membuat pecah kepala. Itupun jika kamu mau dan atau mengizinkan.


Aku akan sangat senang jika kita sebisa mungkin meluangkan waktu bersama. Sesederhana makan martabak manis di teras rumah, bicara tentang apa saja, sambil mendengarkan lagu kesukaan kita. Oh, aku bilang lagu kesukaan kita karena aku akan berusaha tahu minimal mendengarkan lagu yang kamu suka seperti apa. Untungnya, telingaku masih bisa diajak kompromi ketika mendengarkan musik keras, jadi kamu tak perlu khawatir bila tiba-tiba aku menghampirimu dan bilang "itu apa sih?". Yah, asal jangan setiap hari ya :p


Ah iya, aku juga akan berusaha agar tidak merepotkan kamu. Yah, minimal menjadi wanita yang tahu diri dan tahu situasi. Kamu jangan kaget nanti kalau aku hanya duduk diam menonton televisi di rumah. Aku tidak sedang ngambek atau marah, aku hanya terlalu menikmati waktu luang. Kamu jangan kaget nanti kalau aku akan sering menjawab "terserah" ketika kamu menanyakan ingin makan apa atau ingin pergi kemana. Aku tidak sedang ngambek atau marah, aku memang kadang tidak tahu ingin kemana atau ingin makan apa.

Semoga kamu bisa menjadi suami yang baik untukku, imam yang baik untuk keluarga, ayah sekaligus sahabat anak kita kelak. Semoga aku juga bisa menjadi istri yang baik untukmu, makmum sekaligus ibu juga sahabat untuk anak kita kelak.

Hmm, terimakasih telah bersedia menjadi teman hidupku. Saya cinta kamu.


Shit.
Gara-gara ask.fm
Saya jadi khayal babu
Sejak pertanyaan itu masuk ke akun saya
Hingga saya membuat postingan ini.



My future husband, kapan kamu datang?

Wednesday, December 17, 2014

Ternyata Dirimu Serumit Wanita

Ternyata dirimu serumit wanita
Datang tanpa impresi apa-apa
Pergi meninggalkan sejuta tanya

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi aba-aba
Ditambah tanda-tanda

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi sepotong asa
Lalu pergi seakan tidak melakukan apa-apa

Ternyata dirimu serumit wanita
Memendam rasa atau entah apa
Bersikap dingin pada dunia,
berharap tidak ada yang tahu apa yang kau rasa

Ternyata dirimu serumit wanita
Mampu membuat dingin kepala
Namun di lain waktu membuat pening kepala

Ternyata dirimu serumit wanita
Kata-kata jadi senjata
Diammu pun berjuta makna

Ternyata dirimu serumit wanita
Membuatku merasa istimewa
Lalu kemudian dibuat merasa paling hina---karena salah sangka

Ternyata dirimu serumit wanita
Mengerti kamu,
memahami kamu
Tidak semudah yang ku kira

Maaf bila kadang tidak peka
Atau justru,
terlalu peka
Hingga lupa diri
Padahal salah interpretasi

Maaf bila kadang tidak mengerti
Otakku sedang berupaya mencermati
Apakah tanda-tanda itu palsu atau asli

Maaf bila kadang terlalu percaya diri
Padahal dirimu hanya ingin berekspresi
Lagi-lagi,
salah interpretasi

Ternyata dirimu juga serumit wanita
Maafkan aku yang baru bisa memahami
hingga taraf ini

Wednesday, October 8, 2014

(Bukan) Surat Cinta

Saya harap, kamu membaca tulisan ini walau sambil lalu.
Saya harap, kamu punya waktu, untuk membaca sepatah dua patah kata dari saya yang tidak tahu malu.
Saya harap, ketika kamu mulai membaca tulisan ini, kamu mulai mendengarkan lagu kesukaanmu.

Bukan,
bukan ingin saya untuk kamu sukai
layaknya lagu yang mungkin sedang kamu putar saat ini.
Bukan pula ingin saya, untuk mengubah makna lagu yang kamu dengar saat membaca tulisan ini.

Saya --yang tidak tahu malu ini-- hanya ingin menjadi sesuatu
yang dengan refleks kamu ingat
sama seperti ketika kamu memilih lagu mana yang akan kamu putar.
Kamu tidak butuh alasan mengapa kamu memilih itu,
kamu hanya melakukannya.
Karena mungkin di rasa pas,
karena mungkin di rasa tepat.

Kemarin saya sengaja membaca kembali tulisan saya
di tanggal yang sama,
tahun yang berbeda.
Beberapa tulisan lain yang pernah saya tulis disini juga tidak luput dari mata.
Entah mengapa dan bagaimana saya menulis itu.
Ternyata tulisan saya lebih banyak sedihnya, ya?

Jujur saya tidak tahu apa yang ingin saya tulis.
Itulah alasan mengapa saya tidak lagi menulis sejak terakhir kali saya memuatnya disini.
Kata-kata seakan tak lagi bermakna.
Padahal, kata adalah senjata
bagi mereka yang tahu cara menggunakannya.

Ah, persetan.
Saya betul-betul belum menemukan apa yang ingin saya tulis selain ini.

Terimakasih

Terimakasih telah bersedia meluangkan waktu
hanya untuk membuka dan membaca
obrolan tidak penting yang sering saya utarakan
tanpa tahu apakah kamu bosan
atau justru terkesan.

Terimakasih telah menjadi seseorang
yang membuat saya menjadi sebagaimana saya
tanpa perlu takut
tanpa perlu merasa ragu
apalagi malu.

Terimakasih telah menjadi bagian dari inspirasi
yang seringkali datang saat dini hari.
Yang terkadang membuat saya gigit jari
karena ketika kantuk telah menguasai diri,
saya lebih memilih untuk tenggelam dalam mimpi
lalu bangun pagi sambil merutuki diri sendiri.

Terimakasih telah menjadi bagian dalam diri saya
hingga saat ini
walau saya tahu
bahwa ini semu
Semu
karena hanya saya
yang menganggap kamu adalah bagian dari saya
Sementara kita,
bukanlah apa-apa.

Terimakasih telah memberikan saya arti lebih
dari sekadar cerita
dari sekadar perbincangan
dari segala lamunan
dari segala pengharapan.

Terimakasih,

telah membuat saya bertahan
hingga sejauh ini.
:')

Wednesday, April 16, 2014

Hari Bahagia

Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say...


Perasaanku tak menentu. Semua bercampur menjadi satu. Ah, peduli anjing. Melihatnya membuatku yakin. Menatap matanya dalam-dalam bagai zat adiksi. Aku terjerat di dalamnya. Dan sedikit demi sedikit perasaan tak menentu itu mulai sirna. Aku semakin cinta padanya.
*

Berat langkah kakiku. Lemas segala persendianku. Namun, peduli anjing. Aku harus tetap berada disana, disampingnya. Kulihat senyumnya, dia begitu yakin. Seakan tak ada yang mampu menghalanginya. Bahkan hujan badai sekalipun, ia takkan gentar. Kutegapkan bahuku, kuperlihatkan senyum termanis yang pernah aku miliki. Aku makin cinta padanya.
*

Kulihat pria dan wanita yang duduk disana. Kupandangi ayahnya, terlihat sorot matanya yang tajam namun sangat berwibawa. Kuperhatikan ibunya, wanita cantik yang telah melahirkan wanita sesempurna dia, yang berada di dekatku saat ini. Seketika rasa itu kembali berkecamuk dalam dadaku. Namun, peduli anjing. Inilah saatnya aku bicara di hadapan mereka, meminta restu untuk meminang putrinya yang tercantik.
*

Perasaanku bergolak tidak karuan. Aku hanya bisa melihat dan merasakan detik-detik terjadinya peristiwa ini, tanpa sepatah kata apapun.
*

"Tuhan, bantu aku. Lancarkan segala sesuatunya. Mudahkanlah. Semoga menjadi berkah." Aku bersimpuh di hadapan orangtuanya, meminta doa restu pada mereka. Kulihat wanitaku, dia menangis haru. Pun ibunya, ketika memberikan nasihat bagi anaknya. Bahkan ketika air mata mulai membasahi pipinya, dia tetap terlihat cantik. Aku makin cinta padanya.
*

Aku tidak dapat menyembunyikannya lagi. Segala rasa tumpah, menjadi air mata yang tak sanggup lagi ku bendung. Kulihat dia begitu bahagia. Akupun juga merasakannya
*


I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die...


Lega sekali rasanya. Seakan terlepas dari hukuman mati, bahkan lebih jauh lagi dari itu. Kutatap wanitaku, dia tersenyum. Sungguh aku tak sabar menunggu hari, melihatnya terus berada di sisi. Menemani dari pagi hingga malam hari, begitu seterusnya sampai tua nanti. Aku sangat mencintainya.
*

Aku tersenyum. Kulihat sorot matanya menunjukkan kebahagiaan. Jelas sekali ia tak dapat menyembunyikannya. Aku bahagia berada di dekatnya. Aku sangat mencintainya.
*

Kulihat ke sekeliling, kudapati senyum di setiap wajah orang-orang yang hadir hari ini. Tak terkecuali dia, orang yang selalu berada di dekatku. Bahkan hingga hari ini, dia masih terus berada didekatku, memberikan semangat agar aku tidak kalah di makan rasa gugup yang sedari tadi terus menggangguku. Ku peluk dia erat, seakan tak ingin lepas. Karena aku tahu cepat atau lambat aku akan menjalani kehidupan yang baru --yang mungkin tak ada dia di dalamnya--.
*

Dia memelukku erat. Sungguh aku merasa seperti orang yang tidak tahu malu. Berani-beraninya meneteskan air mata di pundak lelaki yang telah menjadi milik orang lain. Namun, aku masih mencintainya. Bahkan hingga detik ini, aku berharap detik waktu berhenti sejenak agar aku masih bisa merasakan pelukannya di tubuhku.
*

Aku tidak tahu, tapi aku juga merasa dia tidak rela melepasku. Mungkin karena kita sudah terlalu biasa bersama. Dia betul-betul sahabatku yang paling baik.
*

Hari ini tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Hari ini adalah hari bahagianya. Hari bahagiaku juga. Meskipun aku bukan wanita beruntung yang menjadi teman hidupnya, setidaknya aku beruntung sempat bertemu dengannya dalam hidupku. Bukan hanya bertemu, melainkan menghabiskan waktu bersama. Sampai detik ini, ketika aku masih berada di pelukannya, aku masih mencintainya. Entah sampai kapan. Aku harap rasa ini segera sirna. Biarpun begitu, aku tetap merasa bahagia.

Karena bahagianya, adalah bahagiaku juga.

Wednesday, April 9, 2014

Pointless

Saya tidak tahu harus menulis apa. Rasanya kini kata-kata semakin tidak ada artinya. Yang tinggal hanyalah sisa-sisa yang bahkan saya tidak dapat membahasakannya. Rasa rasanya, rasa itu kian sirna. Namun entah mengapa saya masih juga belum rela. Entah rela untuk apa.

Saya tidak mengerti. Sebagaimana saya tidak mengerti perasaan saya sendiri. Saya bahkan tidak tahu kapan harus berhenti. Entah berhenti menyalahkan kamu, atau bahkan terpaksa memberhentikan rasa ini padamu.

Mereka bilang di setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan.

Lalu mengapa saya masih juga menampik kenyataan itu?

Harusnya saya mengerti, bukan hanya ingin dimengerti. Harusnya saya paham, atau setidaknya berusaha memahami.

Seperti yang sudah-sudah, kamu hilang lagi. Saya hanya bisa menertawakan diri sendiri. Masih juga rasa ini belum pergi. Seharusnya, seiring kepergian kamu rasa ini turut pergi. Tapi, saya masih tetap peduli. Padahal mungkin kamu merasa ini bukan sesuatu yang harus dipikirkan. Nyatanya setiap hari selalu terlintas di pikiran.

Tapi kali ini, rasanya kamu pergi karena suatu hal. Entah hal apakah itu, yang jelas pikiran dan perasaan saya banyak tersita dengan hanya memikirkan itu. Padahal belum tentu yang saya pikirkan ini benar adanya.

Entahlah, perasaan kali ini tidak cukup dikisahkan hanya dengan kata-kata.

Lalu kemudian air mengalir menganaksungai dari pelupuk mata. Saya bahkan tidak tahu saya menangis untuk apa. Mungkin saya menangisi diri saya sendiri. Mungkin...