Monday, August 24, 2015

11:45 PM

Aku menatap layar putih di hadapanku.
Orang-orang bisa mengubahnya menjadi apa saja.
Diubahnya menjadi semburat senja, atau semilir angin, atau hujan, bahkan badai topan sekalipun.
Sementara aku,
terpaku.
Entah apa yang ada di pikiranku.
Inginku mengubah putih ini menjadi sesuatu.
Namun tanganku tak bergeming.
Aku makin tenggelam dalam hening.
Ku coba sekeras mungkin,
makin ku coba makin terasa tak mungkin.
Aku ingin mengubahnya menjadi senja, kata dan suasana yang selalu diagungkan oleh para pujangga.
Aku ingin mengubahnya menjadi semilir angin, yang menghembus melewati sela rambut dan bajumu, memelukmu sebebasnya, hingga membuatmu lebih erat merapatkan jaket kesayanganmu.
Aku ingin mengubahnya menjadi hujan, yang selalu dirindukan, selalu dinantikan.
Aku ingin mengubahnya menjadi badai topan, agar kamu tahu apa isi yang ada dalam pikiran.

Namun pada akhirnya,
putih itu masih tetap putih
tanganku masih tak bergeming
hening masih menenggelamkanku
lambat laun menjadi batu.

Aku batu.
Kamu bisa menemukanku di sini.
Putih itu lama kelamaan akan usang.
Biarlah dia menjadi saksi.

Aku batu.
Kamu tentu tahu batu tidak berpindah.

Friday, August 14, 2015

Blur

Hi, it's been a long time....
Been a long time for everything, I think.


Kamu pasti sudah menduga aku akan menulis tentang siapa. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan pikiranmu jadi terserah kamu mau berasumsi apa tentang siapa yang ada di tulisanku. Sejujurnya aku pun tidak tahu tulisan ini akan berujung ke mana. Jadi, biarkanlah jari-jari ini berusaha menceritakan tentang apa yang ada di pikiran.


Seringkali aku berpikir ke belakang, entah hampir selalu atau memang pikiranku sangat suka bekerja sehingga hal kecil pun menjadi hal penting dan hal penting menjadi hal kecil duh, apa, sih, bukan seperti itu maksudnya tapi ku harap kamu dapat mengerti. Tapi, bagaimana bisa kamu dapat mengerti jalan pikiranku jika aku sendiri tidak bisa menjelaskannya, ya.


Rasanya seperti sedang berusaha mengurai benang kusut. Seringkali aku bicara dengan diriku sendiri mengenai andai, seandainya, jika dan hanya jika, seharusnya, semua. Padahal aku tahu itu tidak baik tapi ku rasa semua orang pasti pernah seperti itu. Oh, tentu, aku berbeda. Aku lebih sering berpikiran seperti itu daripada orang lain. Yah, kurasa begitu.


Kamu tahu apa akibatnya jika terlalu banyak yang dipikirkan?

Rasanya seperti tidak punya pikiran.
Rasanya kadang seperti berjalan tanpa otak.
Ragamu hidup, namun tidak dengan jiwamu.
Ragamu hadir, namun tidak dengan pikiranmu.
Pikiranmu pergi, entah ke mana.
Melayang-layang, kadang ke belakang, ke masa sekarang, bahkan ke masa yang akan datang.


Blur.


Kamu, aku, yang lalu, yang lain, tugasku, keinginanku, semua menjadi blur.
(Iya, aku tidak hanya menyalahkanmu tapi kadang pikiran tentangmu mempengaruhi yang lain jadi ku taruh namamu di awal, ya).


Blur.
Hingga pening.
Hingga lesu.
Hingga entah apa namanya.
Kalau aku boleh pinjam kata-katamu sih, kadang sampai merasa "tersusususu".


Aku butuh piknik sepertinya.
Kadang sering merasa kurang piknik.
Kadang sering merasa terlalu sensitif.
Kadang sering juga merasa tidak berperasaan.
Datar.
Apalah itu namanya terserah kamu saja yang memberi label.
(Kalau bisa sih, sekalian ajak piknik jangan cuma melabeli saja.)


Wow, aku ngelantur.
Aku bingung.
Kamu juga kalau baca pasti ikut bingung.
Yah kalau ada yang baca, sih.


Hei.
Panjang ya pembukanya.
Padahal aku cuma mau bilang sedikit ke kamu.
Aku masih belum bisa menghilangkan kebiasaanku.
Semoga nanti bisa dihilangkan sedikit-sedikit, ya.

Hei.
Aku sedang berusaha.
Tapi masih lebih banyak gagalnya.
Tapi, kalau kamu mau bantu, bisa.
Jangan diam.
Kalau kamu tidak suka, katakan.
Kalau aku ada salah, katakan.
Kalau aku menyebalkan, katakan.
Apapun, pokoknya, jangan diam.

Kamu itu, kalau kata kartun Upin Ipin yang sering ditonton adikku, "sekejap ade sekejap tak ade".
Maaf ya kalau tidak ada hubungannya.
Tapi kalau menurutku sih, ada.

Aku pernah baca puisi Erin Hanson. Karena aku tidak tahu judulnya apa, ini aku kasih gambarnya saja, ya.

Kamu tahu persamaan kamu sama puisi itu apa?
Kamu yang sebelumnya ada, lalu hilang.
Aku bingung.
Sesuatu dariku ada yang hilang.
(Lupakan bagian bahwa aku memang bukan siapa-siapamu dan kamu bukan siapa-siapaku.)
Kenapa aku rindu kamu,
itu karena kamu sudah lama berada di tempat itu.
Tapi sesuatu yang baru akan muncul lagi, aku tahu.
Entah kapan.
Aku hanya sedang berusaha menghilangkan kamu sedikit-sedikit.
Dengan bicara "Wah, ada yang ganteng!" ke temanku.
"Lucu, ya.", dan entah yang lainnya.
Padahal aku tahu, itu tidak akan mengubah apa-apa.
Tiap lihat tempat itu, aku jadi ingat saat itu.
Kemudian muncullah andai, jika dan hanya jika, seharusnya, dalam pikiranku.
Lagi-lagi, menyalahkan diri sendiri.
Tapi sesuatu yang baru akan muncul lagi, aku tahu.
Entah kapan.

Hei.
Aku rindu kamu.
Kamu pasti tahu.
Aku tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
Pasti ada saja lubang yang tidak bisa aku tutup dengan sempurna.
Ya, sudah.
Maaf ya kalau kamu yang sedang baca jadi bingung arah tulisan ini sebetulnya ke mana.
Aku cuma berusaha mengeluarkan sedikit yang ada di pikiranku.
Agar wajahku tidak dibilang datar ketika berjalan sendirian.
(Padahal sih, memang tidak kelihatan karena aku malas pakai kacamata.)

Hei,
ada satu lagi.

"Aku rindu kamu! Itu, akan selalu."
(Milea, dalam Dilan #2: dia adalah Dilanku tahun 1991).

Saturday, May 9, 2015

Belenggu

Otakku kusut.
Alisku berkerut.
Senyumku kecut.
Hatiku,
carut marut.


Sulit menggambarkan apa yang sedang ada dalam pikiran.
Perasaan?
Lebih sulit lagi.

Aku tidak mengerti apakah otakku ini masih berada di tempat yang seharusnya atau mungkin tibatiba ia menghilang sejenak meninggalkan rumahnya karena lelah harus memikirkan ini itu yang tak tentu.

Aku bahkan tidak paham akan kebiasaanku. Mencampuradukkan segala. Menyimpannya rapatrapat. Begitu terus hingga otakku hampir saja pecah.

Cukup hati saja yang pecah, otak jangan.


Tapi kurasa hati yang pecah bisa membuat otak pecah juga.
Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.

Aku bingung bagaimana membahasakannya, yang jelas otak dan hati yang samasama pecah ini mampu membuat bingung pemiliknya.
Dalam sekejap.
Bingung akan segalanya.
Lupa akan dirinya.
Tenggelam dalam pikirannya.
Hanyut dalam perasaannya.


Ah, apa ini.
Aku bahkan tidak mengerti akan diriku sendiri.
Bagaimana bisa menuntut oranglain untuk memahamiku sementara diriku tidak dapat memahami dirinya sendiri.
Bagaimana bisa menumpahkan segala jika diriku saja tidak mampu memahami apa yang dirasa.

Bagaimana bisa,
bagaimana bisa
diriku lepas
dari belenggu
yang kubuat sendiri
tanpa sengaja
karena
terlalu banyak
ketidaksengajaan
yang kujadikan
pembenaran.

Karena
terlalu banyak
skenario murahan
yang terngiang
menjadikan
batas antara nyata atau fana
menjadi tiada.

Saturday, March 21, 2015

10:59 PM

Saya tahu saat ini seharusnya saya tidak di sini.
Menulis,
berkelana pikiran saya.
Jauh,
entah ke mana.

Saya masih saya yang lama,
yang tidak dapat memisahkan apa yang perlu dipikirkan, apa yang nanti dapat dipikirkan bahkan tidak perlu sama sekali dipikirkan.


Dan kamu,
salah satu di antaranya.


Salah satu di antara banyak hal yang hinggap di dalam otak saya.
Atau hati?
Juga salah satu di antara banyak hal yang ingin saya tepis keberadaannya.

Sayang,
saya belum dapat melakukannya.

Bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Sesungguhnya saya tidak apa jika memang ternyata beberapa puluh bulan belakangan ini menjadi sia-sia.

Saya (mungkin) sudah tahu dari awal kalau ini tidak akan bisa berjalan sesuai dengan kemauan saya.
Memang saya ini siapa?
Berani-beraninya menuntut kamu ini itu sesuka dengkul saya.
Padahal belum jadi siapa-siapa.
Kalaupun sudah jadi siapa-siapa pun saya masih mikir berapa kali untuk nuntut kamu begini begitu.
Karena pada dasarnya saya mengerti dan menghargai seburuk dan sebaik yang ada dalam dirimu.

Tapi, bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Jujur,
mungkin saya akan sedih dibuatmu.
Karena kamu berbeda, karena kamu tidak sama dengan yang sebelumnya pernah saya rasa.
Ya walaupun saya belum pernah berada dalam hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan, persahabatan, apapun namanya.
Setidaknya saya pernah menyukai dan (mungkin, jika saya tidak salah) disukai.

Saya pernah lihat ini di linimasa media sosial yang saya punya,

"You can admire on thousand people. Then for loving in, you will only have one person"

Kamu adalah contoh riil dari kalimat tersebut.
Kamu berhasil membuat saya membedakan hal tersebut.
Kamu berbeda,
dari lawan jenis yang kadang membuat mata ini tak sanggup jika tidak melirik sedikit, tak sanggup jika tidak bergumam atau minimal berkata dalam hati.
Kamu bukan mas-mas gondrong berwajah gahar yang sering saya temukan di beberapa sudut di kampus perjuangan.
Kamu juga bukan mas-mas yang saya benci karena gayanya lebih cantik dari seorang perempuan.

Kamu ya kamu.
Kamu memang bukan mas-mas gondrong yang selalu bisa membuat mata ini diam-diam melirik kearahnya, tapi kamu berhasil membuat saya melirik tanpa melihatmu.
Bingung?
Saya pun demikian.

Lihat, saya mulai lagi kan?
Bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?

Saya ingin tahu apa yang terlintas di pikiranmu,
apapun, tentang saya.
Apakah saya pernah membuatmu merasa bahagia atau sedih?
Apakah saya menyebalkan karena tidak pernah jelas mengutarakan apa yang saya rasakan?
Apakah saya membuatmu merasa ilfil?
Apapun itu.


Jadi, bisakah kamu memberitahu kapan saya harus berhenti?
Atau,
bisakah kita tetap menjadi teman setelah ini?
Atau mungkin,
kita bisa mulai dari awal lagi?


Namun sebelumnya,
ketahuilah,
"....as long as you are trying, I am staying."

(p.s: Iya, saya juga mendapat kalimat ini dari linimasa sosial media yang saya punya)

Tuesday, February 17, 2015

Judulnya Curhat

Tadinya saya tidak berniat menulis postingan kali ini.
Yah setidaknya, bukan hari ini.
Entah minggu depan,
atau akhir bulan.

Tapi rasa-rasanya, saya tidak bisa terus menerus disiksa secara manis seperti ini.
Eh,
mengapa begitu ya istilahnya?
Disiksa secara manis.
Ah, sudahlah.
Tapi memang benar begitu adanya.
Nah, daripada saya tersiksa sendiri
Lebih baik dibagi-bagi, ya kan?


Tidak juga sih.


Jadi, beberapa hari yang lalu...
Saya bertemu dengan teman saya.
Secara langsung.

Yes, after all this time. Lol.

Rasanya?
Serius mau tau rasanya?
Biasa aja.
Itu sih saya aja yang berusaha keras supaya terlihat biasa saja.
Selebihnya, semuanya ada.

Dari awal mula tercetus kata-kata,
yang entah dari mana datangnya.
Seingat saya waktu itu cuaca sedang baik-baik saja.
Tapi entah mengapa rasanya berbeda.
Ah, entahlah.
Hanya perasaan saya saja.

*kemudian berusaha keras bersikap biasa saja*

Ternyata tempat ketemunya di kedai kopi.
Tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran, tapi yah sesuai lah sama harapan.
Tadinya saya kira akan ketemu di tempat yang super ramai, banyak orang lalu-lalang, banyak pula yang sibuk di meja makan masing-masing, lalu ada adegan salah orang.

Shit.

Alhamdulillah tidak separah itu.

Baru sekali saya ke kedai kopi,
baru sekali saya mencari orang yang tidak saya kenali,

baru sekali saya jalan berdua dengan laki-laki.

Iya, saya sepolos itu.
Selamat karena telah berhasil membuat saya bilang "iya" ketika diajak pergi entah kemana.
Yang sebelum-sebelumnya...
yah kira-kira tahu lah jawabannya apa.

Minus beberapa jam, rasanya campur aduk.
Sebelumnya masih bisa bersikap biasa.
Lama kelamaan...makan tuh "biasa".
Jujur, saya deg-degan.
Deg-degan sampai ketiduran.
Tidak ada hubungannya sih sebetulnya.
Awalnya saya memang menunggu adzan lantas shalat lalu jalan.
Namun kemudian saya berpikir kalau itu bisa mengurangi rasa deg-degan.
Ya sudah,
kebablasan.

Rasa deg-degan muncul lagi.
Turun angkutan umum lalu jalan kaki,
lemas kaki hingga ujung jari.

Kamu tahu?
Sebetulnya saya sudah masuk ruangan itu.
Sampai mbak-mbak sebelah mejamu melihatku,
lalu saya berbalik keluar pintu.
Hanya untuk menanyakan pertanyaan yang jawabannya saya sudah tahu.

Yah, saya memang cupu.
Kamu seharusnya sudah tahu.
Saya sudah tahu itu kamu.
Tapi masih malu.
Yah, saya memang cupu.

Ya sudah, kamu ada di hadapanku.
Sesaat kemudian pindah bangku.
Duduk di pojok dekat kaca,
sengaja.
Agar saya bisa menghela napas sekuat tenaga kemudian menghembuskannya tanpa kamu rasa.

Kali ini saya bisa melihat kamu dari dekat.

Sayang, saya terlalu cupu sampai selalu melihat keluar.
Padahal kacanya pun tidak transparan.
Hanya beberapa bagian saja yang terlihat awan atau jalanan.
Bodoh.

Mbok ya kalo salting ditutupi toh nduk.

Lagi, saya bisa melihat kamu dari dekat.
Lagi lagi, saya tidak dapat menatap mata lawan bicara lama lama.
Tidak, kamu tidak perlu merasa spesial.
Teman yang sering mengobrol denganku juga tahu saya tidak bisa menatap mata lawan bicara terlalu lama.

Tapi, saya sudah mencoba.
Yah walaupun lagi lagi lihat jendela.
Maaf ya...

Ada hal lain yang saya perhatikan ketika saya tidak kuasa menatap matamu.
Yah selain jendela, orang orang lain yang ada di sana, bahkan sesekali menengok ke meja kasir.


Senyummu.


Heh, jangan pikir macam macam.
Saya juga tidak berpikiran macam macam.
Aneh, ya?
Sepertinya setelah saya menulis ini kita akan kembali seperti saat tidak saling mengenali satu sama lain.

Heh, bibirmu itu lho.
Ah mungkin saya saja yang terlalu berlebihan.

Shit.
I don't know, i just could not resist....

Sudah sudah.
Nanti ada yang terbang menuju langit bersama paus akrobatis menuju blablabla yang paling manis.

Lewat 2 jam, kemudian pulang.
Maaf tidak sebanding dengan waktu kamu menunggu saya.
Iya, saya telat 1 jam, sepertinya.
Atau lebih? Yah maaf karena salah sangka, kamu jadi menunggu lama
Semoga tidak menyesal telah bertemu dengan saya.
Atau justru sudah menyesal?
Semoga tidak, ya

Maaf jika saya tidak memberikan kesan yang baik.
Maaf jika terlalu pasif.
Maaf....

yah pokoknya maaf. Maaf, ya.




p.s: kamu tidak setua yang saya bayangkan. Mungkin karena efek tubuhmu yang "cilik". Iya, serius saya hanya bercanda. Terserah kamu mau menganggap ini pujian atau hinaan. Tapi seharusnya sih ini pujian, ya kan?

Saturday, January 31, 2015

Gara-gara Ask.fm

Pada suatu malam,

tiba-tiba muncul notifikasi dari ask.fm.
Saya mendapat sebuah pertanyaan dari seseorang yang anonim, isinya seperti ini

"Dear future husband..."

Shit.

Saya belum menjawab pertanyaan itu hingga detik saya mengetik kalimat ini.

Putar otak,
cari kalimat yang pas,
gagal.
Putar otak lagi.
Berusaha membayangkan di situasi yang sebenarnya ketika saya sudah memiliki suami.
Masih juga gagal.

Shit.

Sebelumnya saya sudah cukup sering melihat pertanyaan seperti itu di ask.fm. Biasanya saya hanya membaca "dear future husband" milik orang-orang, lantas sehabis itu saya senyum-senyum sendiri. Dan oh, tidak lupa pencet tombol like. Tapi sekarang, giliran saya yang harus menjawab pertanyaan itu.

Shit.

Kepada yang terhormat mb atau mz anonim, saya berusaha menjawab pertanyaannya sebisa saya, ya. Alasan mengapa saya menjawab di blog, karena kalau di ask.fm sepertinya terlalu panjang dan saya takut kamu malas membacanya.

Yah, alibi hanyalah alibi...



Dear my future husband,



Terimakasih telah menerima saya apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang terlihat maupun tidak dari diri saya. Selamat menjadi tong keluh kesah saya. Mengingat saya sering overthinking tentang apa saja, maka kamulah yang nantinya akan menjadi tempat saya bicara masalah apa saja, dari masalah sepele hingga masalah yang bisa membuatmu berkata "Kamu ini ada-ada saja". Semoga hidup denganku tidak membuatmu merasa direpotkan, bahkan membuatmu merasa tanda-tanda akhir zaman semakin dekat ketika kamu menikahiku kelak.


Aku akan sangat senang jika kamu mengerti bahwa aku tidak suka memegang bawang--apapun jenisnya--, juga memegang talenan, jadi kamu tahu apa alasannya ketika aku malas memasak untukmu. Hehe.


Aku tidak melarang hobimu, terserah kamu ingin melakukan apa saja asal itu baik, tidak merugikan dirimu dan orang lain. Aku bisa menemanimu nonton bola, mengajak bicara hanya untuk membuatmu tetap terjaga ketika pekerjaanmu hampir membuat pecah kepala. Itupun jika kamu mau dan atau mengizinkan.


Aku akan sangat senang jika kita sebisa mungkin meluangkan waktu bersama. Sesederhana makan martabak manis di teras rumah, bicara tentang apa saja, sambil mendengarkan lagu kesukaan kita. Oh, aku bilang lagu kesukaan kita karena aku akan berusaha tahu minimal mendengarkan lagu yang kamu suka seperti apa. Untungnya, telingaku masih bisa diajak kompromi ketika mendengarkan musik keras, jadi kamu tak perlu khawatir bila tiba-tiba aku menghampirimu dan bilang "itu apa sih?". Yah, asal jangan setiap hari ya :p


Ah iya, aku juga akan berusaha agar tidak merepotkan kamu. Yah, minimal menjadi wanita yang tahu diri dan tahu situasi. Kamu jangan kaget nanti kalau aku hanya duduk diam menonton televisi di rumah. Aku tidak sedang ngambek atau marah, aku hanya terlalu menikmati waktu luang. Kamu jangan kaget nanti kalau aku akan sering menjawab "terserah" ketika kamu menanyakan ingin makan apa atau ingin pergi kemana. Aku tidak sedang ngambek atau marah, aku memang kadang tidak tahu ingin kemana atau ingin makan apa.

Semoga kamu bisa menjadi suami yang baik untukku, imam yang baik untuk keluarga, ayah sekaligus sahabat anak kita kelak. Semoga aku juga bisa menjadi istri yang baik untukmu, makmum sekaligus ibu juga sahabat untuk anak kita kelak.

Hmm, terimakasih telah bersedia menjadi teman hidupku. Saya cinta kamu.


Shit.
Gara-gara ask.fm
Saya jadi khayal babu
Sejak pertanyaan itu masuk ke akun saya
Hingga saya membuat postingan ini.



My future husband, kapan kamu datang?

Wednesday, December 17, 2014

Ternyata Dirimu Serumit Wanita

Ternyata dirimu serumit wanita
Datang tanpa impresi apa-apa
Pergi meninggalkan sejuta tanya

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi aba-aba
Ditambah tanda-tanda

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi sepotong asa
Lalu pergi seakan tidak melakukan apa-apa

Ternyata dirimu serumit wanita
Memendam rasa atau entah apa
Bersikap dingin pada dunia,
berharap tidak ada yang tahu apa yang kau rasa

Ternyata dirimu serumit wanita
Mampu membuat dingin kepala
Namun di lain waktu membuat pening kepala

Ternyata dirimu serumit wanita
Kata-kata jadi senjata
Diammu pun berjuta makna

Ternyata dirimu serumit wanita
Membuatku merasa istimewa
Lalu kemudian dibuat merasa paling hina---karena salah sangka

Ternyata dirimu serumit wanita
Mengerti kamu,
memahami kamu
Tidak semudah yang ku kira

Maaf bila kadang tidak peka
Atau justru,
terlalu peka
Hingga lupa diri
Padahal salah interpretasi

Maaf bila kadang tidak mengerti
Otakku sedang berupaya mencermati
Apakah tanda-tanda itu palsu atau asli

Maaf bila kadang terlalu percaya diri
Padahal dirimu hanya ingin berekspresi
Lagi-lagi,
salah interpretasi

Ternyata dirimu juga serumit wanita
Maafkan aku yang baru bisa memahami
hingga taraf ini