Wednesday, December 17, 2014

Ternyata Dirimu Serumit Wanita

Ternyata dirimu serumit wanita
Datang tanpa impresi apa-apa
Pergi meninggalkan sejuta tanya

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi aba-aba
Ditambah tanda-tanda

Ternyata dirimu serumit wanita
Memberi sepotong asa
Lalu pergi seakan tidak melakukan apa-apa

Ternyata dirimu serumit wanita
Memendam rasa atau entah apa
Bersikap dingin pada dunia,
berharap tidak ada yang tahu apa yang kau rasa

Ternyata dirimu serumit wanita
Mampu membuat dingin kepala
Namun di lain waktu membuat pening kepala

Ternyata dirimu serumit wanita
Kata-kata jadi senjata
Diammu pun berjuta makna

Ternyata dirimu serumit wanita
Membuatku merasa istimewa
Lalu kemudian dibuat merasa paling hina---karena salah sangka

Ternyata dirimu serumit wanita
Mengerti kamu,
memahami kamu
Tidak semudah yang ku kira

Maaf bila kadang tidak peka
Atau justru,
terlalu peka
Hingga lupa diri
Padahal salah interpretasi

Maaf bila kadang tidak mengerti
Otakku sedang berupaya mencermati
Apakah tanda-tanda itu palsu atau asli

Maaf bila kadang terlalu percaya diri
Padahal dirimu hanya ingin berekspresi
Lagi-lagi,
salah interpretasi

Ternyata dirimu juga serumit wanita
Maafkan aku yang baru bisa memahami
hingga taraf ini

Wednesday, October 8, 2014

(Bukan) Surat Cinta

Saya harap, kamu membaca tulisan ini walau sambil lalu.
Saya harap, kamu punya waktu, untuk membaca sepatah dua patah kata dari saya yang tidak tahu malu.
Saya harap, ketika kamu mulai membaca tulisan ini, kamu mulai mendengarkan lagu kesukaanmu.

Bukan,
bukan ingin saya untuk kamu sukai
layaknya lagu yang mungkin sedang kamu putar saat ini.
Bukan pula ingin saya, untuk mengubah makna lagu yang kamu dengar saat membaca tulisan ini.

Saya --yang tidak tahu malu ini-- hanya ingin menjadi sesuatu
yang dengan refleks kamu ingat
sama seperti ketika kamu memilih lagu mana yang akan kamu putar.
Kamu tidak butuh alasan mengapa kamu memilih itu,
kamu hanya melakukannya.
Karena mungkin di rasa pas,
karena mungkin di rasa tepat.

Kemarin saya sengaja membaca kembali tulisan saya
di tanggal yang sama,
tahun yang berbeda.
Beberapa tulisan lain yang pernah saya tulis disini juga tidak luput dari mata.
Entah mengapa dan bagaimana saya menulis itu.
Ternyata tulisan saya lebih banyak sedihnya, ya?

Jujur saya tidak tahu apa yang ingin saya tulis.
Itulah alasan mengapa saya tidak lagi menulis sejak terakhir kali saya memuatnya disini.
Kata-kata seakan tak lagi bermakna.
Padahal, kata adalah senjata
bagi mereka yang tahu cara menggunakannya.

Ah, persetan.
Saya betul-betul belum menemukan apa yang ingin saya tulis selain ini.

Terimakasih

Terimakasih telah bersedia meluangkan waktu
hanya untuk membuka dan membaca
obrolan tidak penting yang sering saya utarakan
tanpa tahu apakah kamu bosan
atau justru terkesan.

Terimakasih telah menjadi seseorang
yang membuat saya menjadi sebagaimana saya
tanpa perlu takut
tanpa perlu merasa ragu
apalagi malu.

Terimakasih telah menjadi bagian dari inspirasi
yang seringkali datang saat dini hari.
Yang terkadang membuat saya gigit jari
karena ketika kantuk telah menguasai diri,
saya lebih memilih untuk tenggelam dalam mimpi
lalu bangun pagi sambil merutuki diri sendiri.

Terimakasih telah menjadi bagian dalam diri saya
hingga saat ini
walau saya tahu
bahwa ini semu
Semu
karena hanya saya
yang menganggap kamu adalah bagian dari saya
Sementara kita,
bukanlah apa-apa.

Terimakasih telah memberikan saya arti lebih
dari sekadar cerita
dari sekadar perbincangan
dari segala lamunan
dari segala pengharapan.

Terimakasih,

telah membuat saya bertahan
hingga sejauh ini.
:')

Wednesday, April 16, 2014

Hari Bahagia

Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say...


Perasaanku tak menentu. Semua bercampur menjadi satu. Ah, peduli anjing. Melihatnya membuatku yakin. Menatap matanya dalam-dalam bagai zat adiksi. Aku terjerat di dalamnya. Dan sedikit demi sedikit perasaan tak menentu itu mulai sirna. Aku semakin cinta padanya.
*

Berat langkah kakiku. Lemas segala persendianku. Namun, peduli anjing. Aku harus tetap berada disana, disampingnya. Kulihat senyumnya, dia begitu yakin. Seakan tak ada yang mampu menghalanginya. Bahkan hujan badai sekalipun, ia takkan gentar. Kutegapkan bahuku, kuperlihatkan senyum termanis yang pernah aku miliki. Aku makin cinta padanya.
*

Kulihat pria dan wanita yang duduk disana. Kupandangi ayahnya, terlihat sorot matanya yang tajam namun sangat berwibawa. Kuperhatikan ibunya, wanita cantik yang telah melahirkan wanita sesempurna dia, yang berada di dekatku saat ini. Seketika rasa itu kembali berkecamuk dalam dadaku. Namun, peduli anjing. Inilah saatnya aku bicara di hadapan mereka, meminta restu untuk meminang putrinya yang tercantik.
*

Perasaanku bergolak tidak karuan. Aku hanya bisa melihat dan merasakan detik-detik terjadinya peristiwa ini, tanpa sepatah kata apapun.
*

"Tuhan, bantu aku. Lancarkan segala sesuatunya. Mudahkanlah. Semoga menjadi berkah." Aku bersimpuh di hadapan orangtuanya, meminta doa restu pada mereka. Kulihat wanitaku, dia menangis haru. Pun ibunya, ketika memberikan nasihat bagi anaknya. Bahkan ketika air mata mulai membasahi pipinya, dia tetap terlihat cantik. Aku makin cinta padanya.
*

Aku tidak dapat menyembunyikannya lagi. Segala rasa tumpah, menjadi air mata yang tak sanggup lagi ku bendung. Kulihat dia begitu bahagia. Akupun juga merasakannya
*


I'm gonna marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die...


Lega sekali rasanya. Seakan terlepas dari hukuman mati, bahkan lebih jauh lagi dari itu. Kutatap wanitaku, dia tersenyum. Sungguh aku tak sabar menunggu hari, melihatnya terus berada di sisi. Menemani dari pagi hingga malam hari, begitu seterusnya sampai tua nanti. Aku sangat mencintainya.
*

Aku tersenyum. Kulihat sorot matanya menunjukkan kebahagiaan. Jelas sekali ia tak dapat menyembunyikannya. Aku bahagia berada di dekatnya. Aku sangat mencintainya.
*

Kulihat ke sekeliling, kudapati senyum di setiap wajah orang-orang yang hadir hari ini. Tak terkecuali dia, orang yang selalu berada di dekatku. Bahkan hingga hari ini, dia masih terus berada didekatku, memberikan semangat agar aku tidak kalah di makan rasa gugup yang sedari tadi terus menggangguku. Ku peluk dia erat, seakan tak ingin lepas. Karena aku tahu cepat atau lambat aku akan menjalani kehidupan yang baru --yang mungkin tak ada dia di dalamnya--.
*

Dia memelukku erat. Sungguh aku merasa seperti orang yang tidak tahu malu. Berani-beraninya meneteskan air mata di pundak lelaki yang telah menjadi milik orang lain. Namun, aku masih mencintainya. Bahkan hingga detik ini, aku berharap detik waktu berhenti sejenak agar aku masih bisa merasakan pelukannya di tubuhku.
*

Aku tidak tahu, tapi aku juga merasa dia tidak rela melepasku. Mungkin karena kita sudah terlalu biasa bersama. Dia betul-betul sahabatku yang paling baik.
*

Hari ini tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Hari ini adalah hari bahagianya. Hari bahagiaku juga. Meskipun aku bukan wanita beruntung yang menjadi teman hidupnya, setidaknya aku beruntung sempat bertemu dengannya dalam hidupku. Bukan hanya bertemu, melainkan menghabiskan waktu bersama. Sampai detik ini, ketika aku masih berada di pelukannya, aku masih mencintainya. Entah sampai kapan. Aku harap rasa ini segera sirna. Biarpun begitu, aku tetap merasa bahagia.

Karena bahagianya, adalah bahagiaku juga.

Wednesday, April 9, 2014

Pointless

Saya tidak tahu harus menulis apa. Rasanya kini kata-kata semakin tidak ada artinya. Yang tinggal hanyalah sisa-sisa yang bahkan saya tidak dapat membahasakannya. Rasa rasanya, rasa itu kian sirna. Namun entah mengapa saya masih juga belum rela. Entah rela untuk apa.

Saya tidak mengerti. Sebagaimana saya tidak mengerti perasaan saya sendiri. Saya bahkan tidak tahu kapan harus berhenti. Entah berhenti menyalahkan kamu, atau bahkan terpaksa memberhentikan rasa ini padamu.

Mereka bilang di setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan.

Lalu mengapa saya masih juga menampik kenyataan itu?

Harusnya saya mengerti, bukan hanya ingin dimengerti. Harusnya saya paham, atau setidaknya berusaha memahami.

Seperti yang sudah-sudah, kamu hilang lagi. Saya hanya bisa menertawakan diri sendiri. Masih juga rasa ini belum pergi. Seharusnya, seiring kepergian kamu rasa ini turut pergi. Tapi, saya masih tetap peduli. Padahal mungkin kamu merasa ini bukan sesuatu yang harus dipikirkan. Nyatanya setiap hari selalu terlintas di pikiran.

Tapi kali ini, rasanya kamu pergi karena suatu hal. Entah hal apakah itu, yang jelas pikiran dan perasaan saya banyak tersita dengan hanya memikirkan itu. Padahal belum tentu yang saya pikirkan ini benar adanya.

Entahlah, perasaan kali ini tidak cukup dikisahkan hanya dengan kata-kata.

Lalu kemudian air mengalir menganaksungai dari pelupuk mata. Saya bahkan tidak tahu saya menangis untuk apa. Mungkin saya menangisi diri saya sendiri. Mungkin...

Thursday, March 20, 2014

Sempurna

Sudah cukup lama sejak saat itu, kamu selalu berada di pikiranku.

Dan sejak saat itu aku tahu, mungkin akan sangat sulit untuk lepas darimu.

Kali ini aku memimpikan kamu. Tidak dalam tidurku, melainkan dalam sadarku. Aku tidak tahu sudah berapa kali, memimpikan kamu, menyusun skenario, memerankan adegan, berujung manis, seperti film cinta murahan --tapi tetap juga aku menyukainya--.

Kamu yang kupikir sempurna, selalu jadi peran utama. Kamu manis sekali, sampai-sampai aku gigit jari. Selalu seperti ini, aku selalu hidup ketika bermimpi. Karena hanya lewat mimpi, aku bisa bertemu kamu yang kupikir sempurna.

Yang kupikir sempurna.

Kamu yang kupikir sempurna, tentu akan mengejar yang sesempurna dirimu. Seseorang yang akan kamu lihat setiap pagi, ketika mata bersiap terbuka melihat dunia. Teman untuk tertawa bersama. Teman minum kopi dikala senja. Seseorang yang akan menemani tidurmu kala matahari beranjak ke peraduannya.

Seseorang yang akan tersenyum ketika kamu pulang ke rumah. Menyambut hangat dengan pelukan. Berbagi kecupan dengan malaikat kecil yang nantinya akan melengkapi kesempurnaan. Indah, bukan?

Sesempurna itulah dia. Sesempurna itulah kamu ketika menemukannya.

Sementara aku?

Tidak akan pernah sesempurna dia yang sempurna itu. Tidak akan pernah sesempurna itu untuk dirimu, yang kupikir sempurna.

Pada saat itulah aku juga tahu, aku telah bertemu realita. Mimpi-mimpi segera sirna, pertanda saatnya berusaha mengabaikan kamu yang terus menerus berada di kepala.

Friday, March 7, 2014

yang (belum) Diikhlaskan

Kamu datang
Sedemikian rupa, kamu hadir mengisi pagi hingga petang
Muncul di saat yang tepat
Pergi di saat bicara pun diri ini tak sempat

Waktu itu, hati ini belum tertambat.

Kamu datang lagi
Kali ini, kamu datang bersama mimpi
Aku tidak yakin
Orang bilang kamu hanya kujadikan pelarian
Dari cerita lama yang tak kunjung hilang dari ingatan
Orang bilang kamu datang hanya di saat butuh
Memanggilku di saat kamu perlu sesuatu
Tapi, siapa mereka?
Mereka tidak tahu apa-apa

Waktu itu, hati ini mulai menyukai

Kamu mulai hilang
Aku mulai takut
Takut kalau-kalau terulang kembali yang sudah-sudah
Takut jikalau kamu mengetahui yang sebenarnya

Waktu itu, hati ini mulai gamang

Aku makin gila
Tidak kutemui kau dimana-mana
Aku makin pasrah
Ku kembalikan saja semua seperti semula

Waktu itu, hati ini tidak lagi berarti apa-apa

Namun,
mengapa semua kini terkait padamu?
Segala ba bi bu orang lain tertuju padamu
Apapun pembicaraan yang sedang dilakukan bermuara padamu
Seolah-olah duniaku isinya hanya kamu

Kali ini, hati ini tidak tahu harus bagaimana

Sampai kapan
Sampai kapan terus seperti ini?
Mengapa semesta seolah tidak merestui
Padahal saya hanya ingin melepasmu pergi
Atau bisa jadi saya hanya tidak ingin jatuh lebih dalam lagi

"Kita tak semestinya berpijak diantara ragu yang tak berbatas. Seperti berdiri, di tengah kehampaan. Mencoba untuk membuat pertemuan cinta..."

p.s
Terinspirasi dari cerita seorang teman. Terimakasih untuk ceritanya. Saya tidak tahu persisnya seperti apa. Jadi, maaf kalau ada yang lupa di tulis di atas. :)

Monday, February 24, 2014

Siklus

Sejak kapan semua menjadi terbalik
Mengapa kini semua terasa pelik
Bagaimana mungkin diri ini seringkali tercekik
Oleh keadaan yang jungkir balik

Dia berlaku ini, maka aku berlaku itu
Aku berlaku itu, maka kamu berlaku ini itu

Dia berlaku itu, maka aku berlaku ini
Aku berlaku ini, maka kamu berlaku ini itu

Begitu terus, terus begitu
Bagai mata rantai yang tak pernah putus
Laksana siklus

Haruskah kita selalu mengejar kata "harus"?

Haruskah kita selalu mengejar?

Haruskah kita selalu?

Haruskah kita?

Haruskah?

Aku lelah berada dalam siklus ini
Tapi apa daya diri ini bahkan tidak dapat lari
Apa aku belum juga mengerti
Bahwa tidak dapat sungguh tipis bedanya dengan tidak sudi

Apakah diri ini masih tidak sudi untuk pergi?

Apakah diri ini masih tidak sudi untuk berhenti?

Berhenti sejenak
dan lihat sudah sejauh apa kita berlari

Berhenti sejenak
dan resapi

Berhenti sejenak
untuk berlari kembali

Apakah dia sungguh tidak ingin berhenti
Mengejar manusia yang tak tahu diri
Mengejar manusia yang juga berlari
Berlari menjauhi, bukan mendekati

Apakah dia juga tidak sudi berhenti?

Apakah dia juga tidak sudi meninggalkan lingkaran ini?

Lihat dirinya
Pucat
Semua itu karena diri ini

Dan kamu,
Lihat diri ini
Pucat
Semua itu karena dirimu

Salah.

Tidak ada yang pantas disalahkan dari siklus ini.

Ini hanya kumpulan anak manusia yang belum mengerti.