Tuesday, January 19, 2016

Malam

Satu demi satu pengingat muncul dari layar
Mengingatkan bahwa malam pernah menjadi penyatu antara pikiran yang lelah atau yang berusaha bekerja namun payah
Malam pernah, menjadi sesuatu yang lebih hangat dari matahari
Membicarakan sesuatu entah apa dengan penuh arti, juga hati-hati
Walau pada akhirnya, kehati-hatian itu tidak lagi berarti
Karena malam, pernah membuat jatuh hati


Malam pernah menjadi sebuah rutinitas
Waktu bercakap setelah seharian menaruh penat
Tempat bermimpi setelah hati terisi semangat untuk bangun pagi
Untuk kembali berujar selamat pagi
Pada entah siapa


Malam bukan kosong
Padanya kamu bisa menatap kosong
Namun
Malam bukan kosong
Padanya kamu bisa mengingat, berujar, untuk kemudian melupakan
Malam bukan kosong

Ucapanku,

juga bukan

Hanya telinga memilih
Apa yang ingin ia dengar

Jikalau memang tidak ingin kamu dengar
Apalah dayaku


Kemarin malam, hujan turun
Bukan dari langit
Hanya pelupuk mataku tiba-tiba tidak mampu menahan
Bendungan itu runtuh
Membawa segala
tak bersisa

Lucu

Malam kini tak sehangat sebelumnya

Monday, January 4, 2016

Luruh

Januari,


aku ingin
luruh
bersama air
yang dimuntahkan langit
tersapu
gelombang
hingga muara

Januari,


sungguhpun kenangan ini akan terus kuingat
esok, lusa
atau seribu tahun lagi
aku ingin
kau menemani


Desember tak lagi di sini, Desember menanti
perjumpaan sebelas bulan lagi


Januari,


aku ingin luruh
bersama sungai mengalir dari pelupuk mata
bersama terang gelap dan batas di antaranya
bersama angin menghembuskan satu nama


Januari,


aku ingin
luruh
bersamamu.

Tuesday, November 10, 2015

Bagaimana?


kupikir aku bisa
sedikit demi sedikit meraih apapun untuk merekatkan 
apapun yang bisa direkatkan
padahal nyatanya berbeda
tindakanku secara tidak sadar justru merenggangkan bagian yang lainnya
menyambung jalan yang tidak kuat pondasinya
bagaimana merekatkannya?


kupikir hanya aku yang merasa
aku lupa bahwa kamu juga makhluk yang perasa
inginku dibilang paling mengerti
padahal nyatanya berbeda
memahami diri sendiri pun tidak bisa


kupikir hanya aku yang mencinta
aku lupa bahwa kamu juga makhluk yang punya cinta
inginku dibilang paling mencinta
padahal nyatanya berbeda
kamu juga mencinta
kepada atau bukan kepadaku
rasa itu pasti ada


kupikir aku bisa
padahal nyatanya jelas berbeda
definisi kita akan sesuatu hal saja tidak sama
bagaimana menyatukannya?

Wednesday, October 14, 2015

Greetings from the (supposed to be) third

Tulisan ini dibuat dari tempat kita pertama kali bertemu. Tempat yang mungkin menjadikan kita seperti saat ini.


Tunggu, tempat ini tidak pernah salah.

Aku yang salah.

Akhirnya aku kembali ke tempat ini.
Setelah lama hanya melihatnya dari jalan,
sembari mengingat-ingat kejadian.

Tepat delapan bulan yang lalu,
namun rasanya seperti pertama kali
saat aku ke tempat ini.
Sebelum melangkahkan kaki,
takut, ragu, bingung, entah apa namanya.
Lalu berakhir sama,
aku masuk ke dalamnya.

Aku baru menyadari,
ternyata tempat ini sangat...
apa ya,
menyenangkan,
menenangkan,
tidak terlupakan. 
Dengan atau tanpamu di hadapanku,
rasanya tetap sama.


Tempat ini tidak salah,
aku yang salah.

Delapan bulan berlalu,
dan aku masih menyalahkan diriku.
Pikiranku menciptakan berbagai macam kemungkinan.
Penyebab dari apa.
Lalu menjadi bagaimana.
Otakku memang kadang luar biasa.

Kenangan itu kadang jahat, ya?
Menghantui.
Atau mungkin aku belum berdamai dengannya.
Makanya ia suka muncul tidak tahu diri. 

Seribu seratus satu hari.
Tentang apa yang seharusnya tidak perlu kuhitung dengan jari.
Tidak penting.
Tidak ada esensinya.

Benarkah?

Yet i'm still counting. 
Sampai hari ini.

Bagaimana denganmu?
Maaf aku masih belum bisa untuk tidak mencari tahu sesuatu tentangmu.
Bagaimana kamu sekarang?
Maaf aku berusaha mencari tahu sendiri namun aku tidak menemukan sesuatu.
Bagaimana...


Bagaimana kegiatanmu?
Bagaimana keluargamu? Adikmu?
Bagaimana kucingmu?
Bagaimana...



Bagaimana perasaanmu?


Semoga kamu baik-baik selalu.
Semoga semesta selalu membahagiakanmu.
Semoga....


Hei
tu me manque
मुझे आपकी याद आती है
ég sakna þín
mi manchi
あなたがいなくて寂しいです
μου λείπεις
Я скучаю по тебе
abdi sono ka anjeun
(!!!)

Hahaha
No, I mean it, you know.

Monday, August 24, 2015

11:45 PM

Aku menatap layar putih di hadapanku.
Orang-orang bisa mengubahnya menjadi apa saja.
Diubahnya menjadi semburat senja, atau semilir angin, atau hujan, bahkan badai topan sekalipun.
Sementara aku,
terpaku.
Entah apa yang ada di pikiranku.
Inginku mengubah putih ini menjadi sesuatu.
Namun tanganku tak bergeming.
Aku makin tenggelam dalam hening.
Ku coba sekeras mungkin,
makin ku coba makin terasa tak mungkin.
Aku ingin mengubahnya menjadi senja, kata dan suasana yang selalu diagungkan oleh para pujangga.
Aku ingin mengubahnya menjadi semilir angin, yang menghembus melewati sela rambut dan bajumu, memelukmu sebebasnya, hingga membuatmu lebih erat merapatkan jaket kesayanganmu.
Aku ingin mengubahnya menjadi hujan, yang selalu dirindukan, selalu dinantikan.
Aku ingin mengubahnya menjadi badai topan, agar kamu tahu apa isi yang ada dalam pikiran.

Namun pada akhirnya,
putih itu masih tetap putih
tanganku masih tak bergeming
hening masih menenggelamkanku
lambat laun menjadi batu.

Aku batu.
Kamu bisa menemukanku di sini.
Putih itu lama kelamaan akan usang.
Biarlah dia menjadi saksi.

Aku batu.
Kamu tentu tahu batu tidak berpindah.

Friday, August 14, 2015

Blur

Hi, it's been a long time....
Been a long time for everything, I think.


Kamu pasti sudah menduga aku akan menulis tentang siapa. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan pikiranmu jadi terserah kamu mau berasumsi apa tentang siapa yang ada di tulisanku. Sejujurnya aku pun tidak tahu tulisan ini akan berujung ke mana. Jadi, biarkanlah jari-jari ini berusaha menceritakan tentang apa yang ada di pikiran.


Seringkali aku berpikir ke belakang, entah hampir selalu atau memang pikiranku sangat suka bekerja sehingga hal kecil pun menjadi hal penting dan hal penting menjadi hal kecil duh, apa, sih, bukan seperti itu maksudnya tapi ku harap kamu dapat mengerti. Tapi, bagaimana bisa kamu dapat mengerti jalan pikiranku jika aku sendiri tidak bisa menjelaskannya, ya.


Rasanya seperti sedang berusaha mengurai benang kusut. Seringkali aku bicara dengan diriku sendiri mengenai andai, seandainya, jika dan hanya jika, seharusnya, semua. Padahal aku tahu itu tidak baik tapi ku rasa semua orang pasti pernah seperti itu. Oh, tentu, aku berbeda. Aku lebih sering berpikiran seperti itu daripada orang lain. Yah, kurasa begitu.


Kamu tahu apa akibatnya jika terlalu banyak yang dipikirkan?

Rasanya seperti tidak punya pikiran.
Rasanya kadang seperti berjalan tanpa otak.
Ragamu hidup, namun tidak dengan jiwamu.
Ragamu hadir, namun tidak dengan pikiranmu.
Pikiranmu pergi, entah ke mana.
Melayang-layang, kadang ke belakang, ke masa sekarang, bahkan ke masa yang akan datang.


Blur.


Kamu, aku, yang lalu, yang lain, tugasku, keinginanku, semua menjadi blur.
(Iya, aku tidak hanya menyalahkanmu tapi kadang pikiran tentangmu mempengaruhi yang lain jadi ku taruh namamu di awal, ya).


Blur.
Hingga pening.
Hingga lesu.
Hingga entah apa namanya.
Kalau aku boleh pinjam kata-katamu sih, kadang sampai merasa "tersusususu".


Aku butuh piknik sepertinya.
Kadang sering merasa kurang piknik.
Kadang sering merasa terlalu sensitif.
Kadang sering juga merasa tidak berperasaan.
Datar.
Apalah itu namanya terserah kamu saja yang memberi label.
(Kalau bisa sih, sekalian ajak piknik jangan cuma melabeli saja.)


Wow, aku ngelantur.
Aku bingung.
Kamu juga kalau baca pasti ikut bingung.
Yah kalau ada yang baca, sih.


Hei.
Panjang ya pembukanya.
Padahal aku cuma mau bilang sedikit ke kamu.
Aku masih belum bisa menghilangkan kebiasaanku.
Semoga nanti bisa dihilangkan sedikit-sedikit, ya.

Hei.
Aku sedang berusaha.
Tapi masih lebih banyak gagalnya.
Tapi, kalau kamu mau bantu, bisa.
Jangan diam.
Kalau kamu tidak suka, katakan.
Kalau aku ada salah, katakan.
Kalau aku menyebalkan, katakan.
Apapun, pokoknya, jangan diam.

Kamu itu, kalau kata kartun Upin Ipin yang sering ditonton adikku, "sekejap ade sekejap tak ade".
Maaf ya kalau tidak ada hubungannya.
Tapi kalau menurutku sih, ada.

Aku pernah baca puisi Erin Hanson. Karena aku tidak tahu judulnya apa, ini aku kasih gambarnya saja, ya.

Kamu tahu persamaan kamu sama puisi itu apa?
Kamu yang sebelumnya ada, lalu hilang.
Aku bingung.
Sesuatu dariku ada yang hilang.
(Lupakan bagian bahwa aku memang bukan siapa-siapamu dan kamu bukan siapa-siapaku.)
Kenapa aku rindu kamu,
itu karena kamu sudah lama berada di tempat itu.
Tapi sesuatu yang baru akan muncul lagi, aku tahu.
Entah kapan.
Aku hanya sedang berusaha menghilangkan kamu sedikit-sedikit.
Dengan bicara "Wah, ada yang ganteng!" ke temanku.
"Lucu, ya.", dan entah yang lainnya.
Padahal aku tahu, itu tidak akan mengubah apa-apa.
Tiap lihat tempat itu, aku jadi ingat saat itu.
Kemudian muncullah andai, jika dan hanya jika, seharusnya, dalam pikiranku.
Lagi-lagi, menyalahkan diri sendiri.
Tapi sesuatu yang baru akan muncul lagi, aku tahu.
Entah kapan.

Hei.
Aku rindu kamu.
Kamu pasti tahu.
Aku tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
Pasti ada saja lubang yang tidak bisa aku tutup dengan sempurna.
Ya, sudah.
Maaf ya kalau kamu yang sedang baca jadi bingung arah tulisan ini sebetulnya ke mana.
Aku cuma berusaha mengeluarkan sedikit yang ada di pikiranku.
Agar wajahku tidak dibilang datar ketika berjalan sendirian.
(Padahal sih, memang tidak kelihatan karena aku malas pakai kacamata.)

Hei,
ada satu lagi.

"Aku rindu kamu! Itu, akan selalu."
(Milea, dalam Dilan #2: dia adalah Dilanku tahun 1991).

Saturday, May 9, 2015

Belenggu

Otakku kusut.
Alisku berkerut.
Senyumku kecut.
Hatiku,
carut marut.


Sulit menggambarkan apa yang sedang ada dalam pikiran.
Perasaan?
Lebih sulit lagi.

Aku tidak mengerti apakah otakku ini masih berada di tempat yang seharusnya atau mungkin tibatiba ia menghilang sejenak meninggalkan rumahnya karena lelah harus memikirkan ini itu yang tak tentu.

Aku bahkan tidak paham akan kebiasaanku. Mencampuradukkan segala. Menyimpannya rapatrapat. Begitu terus hingga otakku hampir saja pecah.

Cukup hati saja yang pecah, otak jangan.


Tapi kurasa hati yang pecah bisa membuat otak pecah juga.
Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.

Aku bingung bagaimana membahasakannya, yang jelas otak dan hati yang samasama pecah ini mampu membuat bingung pemiliknya.
Dalam sekejap.
Bingung akan segalanya.
Lupa akan dirinya.
Tenggelam dalam pikirannya.
Hanyut dalam perasaannya.


Ah, apa ini.
Aku bahkan tidak mengerti akan diriku sendiri.
Bagaimana bisa menuntut oranglain untuk memahamiku sementara diriku tidak dapat memahami dirinya sendiri.
Bagaimana bisa menumpahkan segala jika diriku saja tidak mampu memahami apa yang dirasa.

Bagaimana bisa,
bagaimana bisa
diriku lepas
dari belenggu
yang kubuat sendiri
tanpa sengaja
karena
terlalu banyak
ketidaksengajaan
yang kujadikan
pembenaran.

Karena
terlalu banyak
skenario murahan
yang terngiang
menjadikan
batas antara nyata atau fana
menjadi tiada.